Home / REVIEW / Movie / Ulasan Film : Marlina – si Pembunuh Dalam 4 Babak

Ulasan Film : Marlina – si Pembunuh Dalam 4 Babak

Wajah ketir sosok wanita cantik berbibir pucat pada poster film ini, serasi sekali jika disandingkan dengan trailernya yang mempertontonkan wanita yang menenteng potongan kepala sepanjang jalan. Kesan tegar, miris dan menegangkan di tanah yang indah tergambar jelas.

Gambaran ini yang terus-menerus jadi bahan obrolan teman-teman, tentang kenapa harus melihat film ini. Film yang digadang-gadang akan menjadi Film Terbaik di Indonesia tahun ini.


Lalu apa yang terjadi? Jatuh cinta! Di 10 detik pertama perasaan ini muncul dan bertambah besar. Love at the first sight pun terjadi.

Pemandangan Sumba Timur yang ditampilkan di awal film ini, sudah menghipnotis penonton untuk tidak peduli dengan isi ceritanya. Setiap frame yang di bidik dengan pengambilan sudut lebar ini, benar-benar difikirkan layaknya sebuah lukisan seorang maestro. Kualitas gambarnya tajam, berhasil menangkap setiap sisi dan sudut eksotisme Sumba Timur dengan sempurna.

Bidikan kamera yang membentuk frame-frame lukisan
Bukit Savana, rumah Marlina

Mungkin ini pengaruh dari Garin Nugroho yang terkenal dengan frame-frame puitisnya. Perlu di cek juga nih, apa hubungan Mouly Surya (sutradara flm ini)  dengan Garin Nugoho.

Film ini dibagi ke dalam 4 babak yang ritmis untuk menggiring perasaan dan membuat penontong ikut terlibat dalam batin film ini.

Babak 1. Perampokan, Babak.2 Perjalanan, Babak 3. Pengakuan Dosa, dan Babak 4. Kelahiran. Setiap babak dihiasi dengan ketegangan akan apa yang dilakukan dan menimpa Marlina.

Pembagian babaknya pun tampak yang mulus dan menarik. Ada banyak helaan nafas dari penonton saat judul setiap babak muncul di layar film. Entah karena apa. Lega, kesal, bahagia? Hahaha.. itulah menariknya film ini. Babak-babak itu perlahan mengungkap jati diri Marlina si Wanita Pembunuh, yang seperti menyimpan misteri.

Marsha Timothy yang memerankan sosok Marlina patut diacungi jempol. Penampilannya terlihat natural, logat sumbanya pun terdengar kental sambil sesekali berbahasa daerah. Sebagai tokoh sentral film ini, Marlina berhasil menampilkan sosok wanita desa yang setia, mandiri, kuat dan cerdas, serta pandai memendam emosinya.

Marlina, sosok anggun yang mampu meredam emosinya

Marlina adalah seorang janda yang tinggal  di puncak perbukitan Sumba Timur bersama jasad suaminya yang sudah meninggal. Faktor kemiskinan membuatnya belum mampu mengubur suaminya (sesuai adat di Sumba Timur). Sang suami terpaksa menjadi mumi yang dibungkus kain di sudut ruangan. Kisah ini menampilkan kembali potret miris yang terjadi di Indonesia.

Banyak kejadian yang tak pantas terjadi di depan “suaminya” di awal film ini. Ada juga satu adegan yang menggambarkan duka dan rindu Marlina pada suaminya, duduk nelangsa  di samping “suami” seolah ingin mengadu. Sangat menyentuh.

Mumi ini diperankan oleh aktor

Saat gerombolan 7 perampok yang di pimpin oleh Markus (Egy Fadli) datang untuk merampok dan memperkosanya, Marlina berhasil berjuang mempertahankan harga diri, meski dia harus kehilangan semua ternak peninggalan suaminya. Adegan penggal kepala pemimpin perampok tersaji nyata tanpa kesan sadis sama sekali.

Begitu juga dengan adegan yang mengambil hampir separuh dari film ini, yaitu adegan tenteng kepala. Jauh dari kesan sadis. Meskipun demikain, adegan ini bukanlah kejadian wajar. Ini diperlihatkan oleh semua tokoh yang tampil di seluruh adegan “tenteng kepala”. Mereka terlihat takut dan jijik.

Lewat pengambilan gambar dengan sudut yang lebar, tampak tergambar betapa susahnya moda transportasi di Sumba. Marlina harus menunggu bus truk untuk ke kantor polisi. Ketika pada akhirnya bus tidak bisa lagi digunakan, Marlina harus menggunakan kuda.

Selain keindahan alamnya, film ini benar-benar menampilkan nilai-nilai persahabatan, toleransi dan realita kondisi masyakat. Ada satu adegan yang bikin dada ini sesak karena kesal. Yaitu adegan saat Marlina akan melapor di kantor polis.

Marlina harus menunggu para petugas polisi main tenis meja. Padahal untuk ke tempat itu, dia harus berjuang menghindari kejaran 2 orang perampok yang selamat (Marlina berhasil membunuh 5 orang). Dan ternyata aparat pun tidak bisa diharapkan untuk membantu.

Marlina, setelah membunuh 4 perampok

Ah.. meskipun hal ini sering terjadi, entah kenapa tetap saja kesal melihatnya. Dan ini adalah kritik sosial yang cerdas.

Nilai persahabatan dan toleransi diperlihatkan oleh Novi (teman dan tetangga antar gunung Marilina), wanita hamil hampir 10 (sepuluh) bulan yang membantu Marlina menghindari kejaran perampok. Siap-siap saja penonton mengutuk Umbu suami Novi yang memukulnya karena belum melahirkan padahal sudah hamil nyaris 10 bulan. Umbu menuduh Novi hamil sungsang. Di Sumba Timur, hamil sungsang, pertanda isrtri pernah selingkuh saat hamil.

Beberapa kali Novi terjatuh saat dipukul, namun hamil tuanya tidak masalah. Saya yakin, sutradara ingin menunjukkan bahwa wanita sumba adalah wanita yang kuat.

Film ini minim suara dan musik yang tiba-tiba mengagetkan atau lagu yang dibikin mendayu-dayu. Namun kekuatan ceritanya, mampu membawa penonton ke suasana imajinasinya masing-masing. Ada yang bergidik ngeri, geli, jijik dan lega.

Satu isian “soundtrack” yang menarik adalah alunan gitar tradisional Sumba yang mengiringi lagu yang dinyanyikan sang pemimpin perampok. Pandai sekali pembuat film ini membuat kita memuji pemimpin perampok ini dalam menyanyi. Suaranya merdu, suara petikannya tegas tapi membuai mistis.

Kostum dan properti benar-benar menunjukan detail sebuah film kaliber internasional. Wajar sesuai dengan aslinya. Jauh dari kesan klise. Meski tetap menjual keunikan tradisi dan pesona kain Sumba.

Nyaris tidak ada scene-scene yang mubajir. Semua adegan benar-benar efektif dan beralasan satu sama lain. Kepintaran Marlina dalam membunuh para perampokpun berjalan wajar, tanpa kesan heroik yang dibuat-buat.

Entah harus puas atau tidak, akhir dari film ini nyata sekali menggambaran sosok-sosok bernilai feminisme yang tetap kuat berjuang melawan kekerasan lelaki. Marlina dan Novi saling membantu memperjuangkan harga diri dan kodrat mereka sebagai wanita dan ibu.

Perjuangan yang sesungguhnya

Film yang telah melanglangbuana dan mengharumkan nama bangsa di berbagai festival internasional ini, sangat layak untuk disaksikan di negaranya sendiri. Sebuah film dengan jenis dan tema cerita segar dalam perfilman di Indonesia.

Terima kasih CINESURYA, Serikat Pekerja Media dan Industri kreatif SINDIKASI yang telah mempersembahkan dan menghadirkan film pada kami.

Bravo.

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Maharani Guest House Tebet Jakarta, Hotel Lowbudget yang Keterlaluan

Bukan lagi ada kalanya. Karena kita memang butuh parkir sejenak untuk melakukan semua perenungan. Dan …

Sate Legendaris Ajo Ramon, Hati-Hati Kalau ke Sana!!

Sebenarnya sore itu saya sudah cukup berusaha untuk datang lebih cepat. Lokasi undangan yang hendak …

16 comments

  1. Kok keren sih bang ulasannya! 🙂

  2. Duh jadi pengen nonton banget.. sepertinya bagus sekali. Keren bang eka review nya

  3. Wah ulasannya keren, Bang! Semoga semakin banyak yang nonton film keren ini!

  4. Analisis yg keren tanpa spoiler!

  5. Bagus ini babang. Bikin kepengen nonton. Sosok wanita ini bikin penasaran. Kesan dan pesannya tersirat. Mungkin aku juga akan jatuh cinta jika menonton. Dan gregetan nyeret seseorang buat nonton juga..

  6. Ulasan yang menyeluruh, dimulai dari poster film, sudut pengambilan gambar hingga babak perbabak..
    Bikin penasaran utk menonton film ini.

  7. ulasan yang lengkap sekali Bang, membuat yang membacanya ingin segera lari ke bioskop dan menonton.

  8. kalimat pembuka ulasannya cetar banget nih! Suka, Bang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: