Home / TRAVELING / JAVA ISLAND / Parang Gombong, Pertama Kali Datang Langsung Kesal eh Menyesal? (1)

Parang Gombong, Pertama Kali Datang Langsung Kesal eh Menyesal? (1)

Tulisan tentang Parang Gombong ini ada Kuis Berhadiahnya. Pertanyaan ada di akhir tulisan.
~~~~~~

Parang Gombong
Pantai Parang Gombong

Pernahkah datang ke suatu tempat dengan banyak kekesalan yang mengawali dari awal sampai akhir? Yap… itulah yang saya rasakan saat pertama kali datang ke suatu tempat yang bernama Parang Gombong ini. Mulai dari perjalanannya, pesertanya dan kondisi di sana yang benar-benar bikin saya kesal karena menyesal. Bahkan di saat perjalanan pulang pun saya masih kesal !!

Baru kali ini saya menyesal saat tiba di suatu tempat, bahkan sampai saat akan meninggalkan tempatnya

Persiapan Setengah Matang ke Parang Gombong

Rencana main-main ke Parang Gombong ini sebenarnya memang bukan rencana yang disusun jauh-jauh hari. Rencana ini dibuat karena gagalnya saya melakukankan perjalanan 1,5 bulan saya ke beberapa daerah di Indonesia. Baru 31 hari saya sudah harus pulang. Handphone (HP) yang kecebur ke laut dan langsung mati total, membuat saya yakin, kalau ternyata saya memang tidak bisa hidup tanpa HP (ini sih fiks lebay). Baru 5 hari tanpa HP saya benar-benar berasa enggak bisa ngapa-ngapain. Lemas, enggak bisa berkabar dengan orang-orang tersayang benar-benar menyiksa hati. Walhasil, saya harus pulang ke Jakarta dan beli HP baru.

Nah, karena pada akhirnya banyak waktu yang kosong, akhirnya saya berusaha meracuni beberapa teman untuk bikin trip dadakan. Kemana saja saya enggak perduli, yang penting keluar rumah. Hahahaha… Gayung bersambut (duh ini istilah dah jadul banget kayaknya), akhirnya ada 1 orang teman –Bale namanya– sama-sama peserta ke Lombok seminggu sebelumnya. Dia ngajak ke Parang Gombong.

Waktu diajak ke Parang Gombong, saya sama sekali enggak berusaha cari tahu tentang nama tempat itu. Katanya sih tempat camping di Purwakarta. Bale juga enggak banyak cerita, yang saya tahu kita akan berkemah dengan beberapa temannya, dan itu cukup buat saya. Pada akhirnya kamipun bagi-bagi tugas. Siapa bawa apa dan … saya tetap tidak browsing untuk cari tahu tentang tempat itu.

Jenis-jenis Kekesalan dari Awal Perjalanan Ke Parang Gombong, yang Jangan Sampai Kalian Alami

Untuk ke Parang Gombong ini awalnya kita janjian jumpa di stasiun Purwakarta jam 16.00 WIB, di sana nanti Bale dan teman-temannya yang tinggal di Cikampek akan datang menjemput. So... rencananya saya mau berangkat jam 12 siang dari rumah, atau sekitar jam 13.00 – 14.00 WIB Stasiun Tanjung Priok. Ternyata saya telah melakukan kesalahan besar. Saya enggak cek jadwal kereta api sebelumnya. Walhasil saya sedikit panik. Langsung kabari ke Bale seandainya saya enggak bisa naik kereta api, maka saya akan naik Bus dari terminal Tanjung Priok.

Karena jadwal yang kacau ini, maka kekacauan berikutnya pun berlanjut menjadi seperti cerita ini …

Kereta Mendadak Jadi “Ajaib”, Ngeselin.

Saya naik dari Stasiun Rawa Buaya, pada saat menunggu kereta, saya iseng ngecek jadwal kereta ke Purwakarta dari Tanjung Priok. Betapa kagetnya saya, karena ternyata jadwal kereta tidak ada yang dari jam 12.00 s.d. 14.00, yang ada jam 11.00-an dan jam 16.00-an. Saya sempat bingung apakah mau ke Tanjung Priok untuk cek dulu? Siapa tahu keretanya ada, atau kalaupun tidak ada kereta, bisa naik Bus dari terminal bus di samping stasiun. Hanya saja, waktu ke Tanjung Priok lebih lama, dibandingkan kalau saya langsung ke Cawang atau Kali Deres untuk langsung naik Bus di sana.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya pilih ke Tanjung Priok, dan untuk itu, pada saat transit di  Stasiun Duri, saya harus naik kereta ke Stasiun Kampung Bandan dan lanjut ke Tanjung Priok dari Kampung Bandan.

Sesampainya di Stasiun Duri, kereta tujuan Kampung Bandan yang seharusnya tiba 10 menit lagi ternyata harus delay 1 jam lebih. Arghhh… kekekasalan pun bertambah….
Saat kereta tujuan Stasiun Angke datang, saya langsung naik. Rencananya nanti mau lanjut saja pakai ojek online dari Angke ke Tanjung Priok.

Apa mau dikata… setibanya di Stasiun Angke, ternyata hujan turun deras sekali. Saya batal lanjut naik ojek. Duh… cobaan apa lagi ini… akhirnya saya pun harus nunggu kereta ke Kampung Bandan yang delay tadi. Hahahaha podo wae….

Enggak “Kompak” Sama Hujan, Jebret !!

Sesampainya di Stasiun Kampung Bandan, saya tanya ke petugas kira-kira kereta ke Tanjung Priok datang jam berapa. Ternyata kereta datang 30 menit lagi. Saya pun cek ojek online ternyata cuma 9 menit ke Tg Priok. Tanpa pikir panjang lagi saya pesan ojeknya. Daannnn… begitu ojek tiba, mendadak gerimis datang. Saya cuek, siapa tahu enggak lama.

Ternyata dugaan saya salah, begitu tiba di Stasiun Tanjung Priok hujan mendadak deras, saya pun langsung lari sekencang mungkin dari parkiran ke dalam stasiun. Dengan baju dan rambut yang basah, saya bertanya tentang jadwal kereta ke petugas loket tiket. Jawabannya pun fiks. Kereta berikutnya jam 16.15 WIB dan akan tiba di Purwakarta sekitar jam 18.30. Langsung saja saya putuskan untuk naik bus, saya pikir, paling tidak kalau berangkat jam 13.30 WIB, paling lambat jam 17.00 WIB sudah tiba di Purwakarta. Enggak terlalu terlambat. Langsung saya kabari Bale, kalau saya sekarang naik Bus, jadi jemput saya di Pintu Tol Cikopo saja.

“Dicoba-coba” Sama Bus

Cobaan berangkat belum usai. Ternyata bus jurusan Cikampek ini harus ngetem dulu dan berangkat 1 jam kemudian. Nah.. nah… nah… siapa yang enggak kesal coba? Hayooo… siapa?

Belum lagi ternyata jalanan ke Cikampek macet sekali. Macetnya sampai di km 66, lengkaplah sudah penderitaan.. (ini memang lebay lagi.. hahahaha). Saya harus menikmati kemacetan tol ini selama 4,5 jam dan tiba di Pintu Tol Cikopo sekitar jam 19.00… Uhuyyyy… mana hujan deras lagi… dan saya harus jalan dari pintu toll ke Pom Bensin tempat kami janjian sekitar 500 meter. Untung bawa ponco, jadi cuma basah kuyup sebatas lutut ke bawah. Tapiiii… ini kan asli… bikin kesal !!

Perjalanan ke Parang Gombong dan Teman yang “Cemen”

Parang Gombong
Bale, satu-satunya teman yang jadi. Saat tiba di mepo hujan-hujan

Saat tiba di Pom Bensin ternyata Bale datang sekitar 5 menit setelah saya, dan dia bilang teman-teman yang lain enggak jadi datang karena hujan. What !!! … Kesal enggak sih ngedengernya. Di saat saya sudah “berjuang”, mereka seenaknya saja batal.

Saya tetap memutuskan untuk berangkat, karena saya pikir sudah terlanjur dan sudah melewati berbagai “rintangan”. Saya tanya Bale, apakah mau lanjut atau mau ikut-ikutan cemen seperti teman yang lain? Hahaha… karena enggak mau di bilang cemen akhirnya Bale pun lanjut, dan kami pun berdua melanjutkan perjalanan. Eh.. tapi enggak deng.. bukan karena takut dibilang cemen. Bale anaknya memang baik, masih jomblo pula, yang mau kontak saya saja… eh.. kok jadi…

Seperti biasa, diperjalanan kami pun singgah di sebuah mini market untuk beli logistik persiapan makan malam dan sarapan. Setelah belanja, kok perut ini tiba-tiba ngeyel. Lapernya benar-benar super. Padahal tadi sudah beli bahan makanan untuk dimasak di lokasi. Akhirnya, kami pun terpaksa cari-cari tempat makan khas yang enak dengan memakai google. Kami cari yang tempatnya satu arah ke lokasi nge-camp. Pilihan pun jatuh ke Rumah Makan Soto Sadang. Nah… yang pasti ini adalah terpaksa yang nikmat. Kami pun menyantap 2 porsi Soto Sadang dan Sate Maranggi.

Parang Gombong
Lapar, semua habis di santap teman perjalanan

Perjalanan Uji Nyali ke Parang Gombong

Perjalanan ke Parang Gombong di malam hari benar-benar seperti perjalanan uji nyali. Lama perjalanan sekitar 45 menit dari tempat makan kami tadi. Sebenarnya perjalanan ke Parang Gombong ini melalui jalan yang sangat bagus, jalanan sudah diaspal semen. Hanya saja kondisi sepanjang jalan benar-benar gelap gulita, enggak ada lampu penerangan umum. Penerangan pun hanya mengandalkan lampu mobil.  Di tambah lagi dengan pemandangan hutan dan perkebunan pegunungan daerah Waduk Jatiluhur, di kiri kanan jalan. Benar-benar uji nyali.

Langsung kebayang deh kalau kita nanti benar-benar camping di suatu tempat di pinggir danau dan hanya berdua dengan 1 tenda.. hiks…

Beberapa kali kita melewati jembatan besar dan Bale yang nyetirin mobil pun membunyikan klaksonnya. Tanda permisi sama yang nungguin jembatan, katanya. Nah lo…

Di tengah jalan kami tiba di sebuah perkampungan dengan mesjid yang cukup besar. Kami singgah untuk sholat dan berangkat lagi menembus jalanan yang sepi dan gelap gulita.

Sekitar 10 menit dari sana, tiba-tiba pemandangan berubah lain. “TOTALLY DIFFERENT!!” Sepertinya kami sudah memasuki pinggiran Waduk Jatiluhur. Hamparan luas dengan pemandangan air waduk yang diterangi sinar bulan benar-benar menakjubkan buat saya.

Tapi kami enggak berani berhenti dan Bale meneruskan perjalanan. Sekitar 200 meter kemudian di kiri kanan jalan mulai terlihat tanda-tanda kehidupan. Di kiri kami banyak warung-warung makan dan di sebelah kanan ada rumah penduduk dan kantor perangkat desa.

Baca Juga : Kawah Ijen Banyuwangi, Pesona dan Jalurnya, Menggoda si Gendut

Tiba di Parang Gombong, Yeay !!

“Bang, udah sampe kita, tempat ngecamp-nya ada di belakang warung-warung ini,” kata Bale.

“Oh OK, parkir di tempat yang aman aja,” jawab saya, sambil dalam hati berasa kesal sama pengen ngakak. 

Ternyata tempat ini enggak seseram yang saya bayangkan di tengah jalan tadi. Ternyata masih ada tanda-tanda kehidupan di lokasi kami nge-camp di Parang Gombong ini.

Meski cuaca masih kurang bersahabat, di tengah gerimis kami pun menurunkan barang-barang dan berjalan kaki sekitar 100 meter menuju tempat perkemahan.  Tampat jelas sekali bekas hujan deras di tempat itu, becek di sana-sini. Kami berusaha mencari jejakan kaki yang tidak terlalu dalam beceknya. Hahaha.. meski udah tahu bakal tetap basah dan kotor, enggak ada salahnya juga milih-milih, kan?

Begitu sampai di pinggi pantai, saya tertegun sejenak. Thanks to my Allah SWT. The View is So Amazing!!.

Parang Gomong
Pantai Parang Gombong di malam hari

Malam aja udah sekeren ini… gimana kalau besok pagi. Gimana sunset dan sunrisenya?

Setelah memilih tempat yang datar dan gak terlalu basah, Bale bergegas memasang tenda. Satu-satunya tenda di sana. Ada rasa was-was dan gamang karena kami cuma berdua di lokasi tersebut. Meski banyak warung yang cuma terdiri dari tiang-tiang ala kadarnya, tapi warungnya kosong, gelap tak berpenghuni karena sudah malam.

Antara waspada dengan kondisi sekitar dan kagum pada pemandangan, maka kami pun cepat-cepat mendirikan tenda dan membereskan barang-barang.

Parang Gombong
Mendirikan satu-satunya tenda di Parang Gombong malam itu

Duh, enggak sabar rasanya menunggu pagi. Menikmati pemandangan yang di saat malam saja sekeren ini.

Kata Bale ini tempat mirip Ranu Kumbolo, tapi kalau saya bilang ini mirip danau di Swiss.

Tapi… ternyata keesokan paginya tidak seindah yang sayang bayangkan. Pemandangannya sih memang keren parah. Parah separahnyanya. Tapi kekerenan itu tidak diimbangi oleh yang bakal saya tulis berikutnya. Baca lanjutannya yah dan jangan lupa jawab kuis di bawah ini….

(BERSAMBUNG)

KUIS :

  1. Kenapa tidak ada atau sedikit sekali foto-foto di awal tulisan tentang Parang Gombong ini?
  2. Kenapa penulis kesal, haruskah dia kesal?

Silahkan tulis jawaban di bagian komentar. Jawaban dan pengumuman diberikan setelah 1 minggu dari tulisan ini terbit. Jawaban terbaik akan mendapatkan pulsa 50 rb rupiah. Jadi… tunggu pengumumannya 1 minggu lagi.

 

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Kawah Ijen Banyuwangi

Kawah Ijen Banyuwangi, Pesona dan Jalurnya, Menggoda si Gendut

Bagi para pencinta alam, Kawah Ijen Banyuwangi adalah nama tempat yang tak asing lagi di …

Wisata Kampung Pulo Garut, Hadiah Eyang untuk Kota Intan

SERI SWISS VAN JAVA — #4  : Wisata Kampung Pulo Garut PERJALANAN KE KAMPUNG PULO …

87 comments

  1. Pernah juga pulang dari Jati Luhur malem-malem, dan emang jalannya gelap gitu. Terus aku penasaran sama pemandangan paginya, tapi nggak ada 🙁

    Jawaban Kuisnya:

    1. Karena masih malam jadi tidak banyak mengambil foto, dan biar pembaca penasaran. Makanya sedikit foto-foto yang di-share, karena aku pun penasaran sama foto pemandangan sunrise-nya.

    2. Kenapa harus kesal? Wajar sih kesal kita mau menuju mepo aja udah butuh perjuangan, tapi pas sampe eh banyak yang nggak jadi cuma karena hujan. Namun, kalo udah sampe lokasi dan pemandangannya kece, rasanya rasa kesal itu akan hilang dengan sendirinya.

  2. 1. Karena Bang Eka belum sempat search informasi tentang Parang Gombong.
    2. Perjalanan menuju mepo nya sungguh amat terlalu menyesakkan dada. Banyak ujian untuk akhirnya bertemu Bale, yang kalo seandainya Bang Eka ga posting fotonya saya akan bayangkan Bang Eka lagi ngetrip bareng Batman.
    3. Semoga di tulisan selanjutnya Bang Eka akan bahas biaya yang harus dikeluarkan di Parang Gombong, dan worth it tidaknya perjuangan menuju ke sana

  3. Kagum dengan semangat Babang dengan segala cobaan yang menghalang, meskipun akhirnya berangkat berdua.

  4. Satu hal yg melekat ttg diri Om Eka dlm tulisan ini:
    Seorang yg komit (kasih jempol yg banyak).

    Kuisnya yaa, aku ikutan ah..
    1. Kenapa gak ada foto/hanya sedikit? Hmm. Biasanya kan foto itu diambil dari: a. perjalanan ke tempat tujuan (krn om eka dan partner jalan ga berani berhenti gimana mau ambil gambar) b. di tempat tujuan (ada sih foto satu, tapi mau ambil besok aja krn ekspektasi untuk besok jauh lebih kece)
    2. Iya kesal karena orang2 yg tidak komit itu yg paling bikin kesal sih.. Sampai2 nulis stasiun Kampung Bandan aja jadi Tanjung Bandan (keselnya msh kebawa ketika nulis kayaknya). Harus kesal gasih? Kesal itu menurutku bawaan perasaan, gabisa dibilang harus/gak harus. Kalo aku jadi Om Eka juga kesel sih haha.

  5. 1. Dengan drama perjalanan seperti itu 90% orang bakal kehilangan mood buat foto2
    2. Setelah “berjuang” seorang diri ternyata yg lain pada cemen dan gak “komit”

    Tapi overall ceritanya malah seru karena banyak dramanya. Hahaha

  6. 1. Udah kesel duluan jadi enggak mood foto dan gak dapet foto bagus
    2. Kesel karena perjalanan keujanan kemacetan dan temen cemen. Dan paginya hujan lg ditenda gak liat sunrise. Gak dapet view bagus selain malem. Di ig kan ada hahaha

  7. delaynya gak santai bgt om, 1 jam.

  8. Pengalaman yang mirip dengan kereta ke Kampung Bandan pernah saya alami saat ke Bogor.

    Saat itu cari solusi cepat dengan menggunakan transportasi lain. Ujung-ujungnya tetap menggunakan transportasi yang semula tidak dipilih.
    Kesal sih, tapi mau bagaimana lagi.

  9. Mesti kesana nih suatu saat :

    Jawaban kuis :

    1. Karena penulis sudah banyak kekesalan yang didapat sewaktu di perjalanan, saya rasa aga malas untuk mengabadikan banyak momen, ya kalau saya jadi Babang si fix pengenya cepet sampe biar rasa kesalnya ilang.

    2. Pantas saja si yah kesal terhadap kesalahan sendiri, tapi ya itu konsekuensi karena Babang kurang persiapan HAHAHAHAHHAAH 🤣🤣

  10. Jadi mau nyanyi bukan mau jawab pertanyaan. Walau badai menghadang 🙂
    Saya jadi penasaran sama foto pemandangannya.

  11. Aku mau jawab pertanyaannya:
    1. Karena waktunya gak tepat aja makanya bisa cekrek sana-sini
    2. Gak perlu, nikmatin aja. Anggap aja pengalamaan yg bisa dibagikan ke orang lain apalagi yg belum pernah ngerasain pasti feel nya dapet. Syukur syukur dapet feel dari si dia.

  12. 1 fotonya dikit karena hujan, malam, cuaca tidk mendukung seperti suasana hati yg lagi kesal
    2. Jelas kesel karena yang lain g apa dateng, tapi sebaiknya tidak usah dimasukin hati, karena kemampuan harapan serta pemikiran orang tidak sama

  13. 1. Karena kesal, males posting foto2
    2. Kesal klo jdi tulisan yg bikin penasaran, namanya super kreatif.

  14. mantap walau hujan dan badai menghadang tetap ke parang gombong

  15. setenda berdua laki laki lain 🙂

  16. Tuty prihartiny

    Pernah ikut trip ke purwakarta tapi baru tahu ada destinasi keren ‘ parang gombong’. Lagi seru-serunya eh bersambung. Ngeselin kan, jadi penasaran. He hr he Keren lha Bang Eka seperti sedang menulis skenario

  17. 1.Kenapa tidak ada photo, khan baru cerita awal, bagaimana perjuangan menuju Parang Gombong…yang heroik sekali 😀
    2.Kesal karena awalnya sudah kesal dengan rencana trip kebebersoa daerah di ainfobedia tidak terlaksana plus separuh napas yang tercebur ke laut.

    Kisah perjalanan awalnya yang ngeselin bagi abang tapi menghibur loh bagi kami yang baca…seruuuu

    Menunggu keluh kesah berikutnya…

  18. Astaga Bale…hehhe..BTW seru banget setiap baca perjalanannya si Babang ini. bikin kebawa arus.. sukses terus ya Babang.

  19. Yukkklahhh kesana lagii…….

  20. 1. Kenapa tidak ada atau sedikit sekali foto-foto di awal tulisan tentang Parang Gombong ini?
    Karena dalam kondisi mobile, hujan, dan tiba diwaktu malam…spot yang ada hanyalah spot moment yang tidak menarik, macet, stasiun,ngetem,dsb
    2. Kenapa penulis kesal, haruskah dia kesal? kesal karena terbiasa dengan trip yang komitmen dengan ketepatan waktu, meledak ledak karena ngga mau ngecewain peserta lain. Ditambah sampai di purwakarta pada batal…ga harus sih , tapi kesal yang terjadi sama bang eka itu reaktif yang alami aja, pada akhirnya attitudde yang merubah itu semua.

  21. 1. Boro2 mikirin ambil foto,,,
    2. Yg jelas mau cepet nyampe
    *done

  22. Pertanyaan kuisinya adalah pertanyaanku juga, tumben tulisan Babang tidak murah gambar, biasanya banyak kaya etalase.

    Baik aku akan jawab, siapa tau aku dapat pulsa lumayan buat hubung Bale, siapa tau diajak ke ParaNg Gombong kaya Babang #ehh

    1. Kenapa ga ada gambar karena belum punya hp canggih pas itu

    2. Kenapa kesel? Ya kesel laaah dipehape sama kereta. Sama kereta aja kesel apalagi dipehapein dia yaa

    Mudah2an Yunita menang kuisnya. Aamin

  23. Mau ikutan kuisnya ahhhhh.

    1. Kan cerita awal lagi riweuh-riweuhnya sama jadwal kereta, riweuh sama hujan, riweuh sama bus, dan handphone masih baru juga kan? Nahh bisa jadi belum babang setting pengaturan kameranya.

    2. Kesal karena udah riweuh-riweuh, ehh ga taunya teman-teman yang cemen itu kena seleksi alam.

  24. Hahaha gokil ceritanya dan pengemasannya. Kok bisa sih keren banget?

    I love this one. Babang Eka sudah kutetapkan sebagai panutan dalam menulis cerita traveling.

    I’m trin’ answer the questions;

    1. Ga ada photo karena buat gimmic dan makin penasaran buat liat tulisan berikutnya. kalau ini benaran gimmic, aku suka banget, keren dan tak pernah terbayangkan.

    2. Haruskah penulis kesal? harus dong. Kekesalan setelah melihat bahkan mau pulang dari Parang Gombong karena kenapa baru sekarang tahu dan berkunjung ke sana, padahal Parang Gombong layaknya danau yang belum terjamah danau yang terbaik di Indonesia.

  25. Hahaha gokil ceritanya dan pengemasannya. Kok bisa sih keren banget?

    I love this one. Babang Eka sudah kutetapkan sebagai panutan dalam menulis cerita traveling.

    I’m tryin’ answer the questions;

    1. Ga ada photo karena buat gimmic dan makin penasaran buat liat tulisan berikutnya. kalau ini benaran gimmic, aku suka banget, keren dan tak pernah terbayangkan.

    2. Haruskah penulis kesal? harus dong. Kekesalan setelah melihat bahkan mau pulang dari Parang Gombong karena kenapa baru sekarang tahu dan berkunjung ke sana, padahal Parang Gombong layaknya danau yang belum terjamah danau yang terbaik di Indonesia.

  26. Hahaha gokil ceritanya dan pengemasannya. Kok bisa sih keren banget? resepnya apa?

    I love this one. Babang Eka sudah kutetapkan sebagai panutan dalam menulis cerita traveling.

    I’m tryin’ answer the questions;

    1. Ga ada photo karena buat gimmic dan makin penasaran buat liat tulisan berikutnya. kalau ini benaran gimmic, aku suka banget, keren dan tak pernah terbayangkan.

    2. Haruskah penulis kesal? harus dong. Kekesalan setelah melihat bahkan mau pulang dari Parang Gombong karena kenapa baru sekarang tahu dan berkunjung ke sana, padahal Parang Gombong layaknya danau yang belum terjamah danau yang terbaik di Indonesia.

  27. 1. Enggak ada foto karena satu keadaan nya ujan terus keadaannya lagi di jalan jadi ribet ngeluarin HP. Hahah.
    2. Haruskah penulis kesal.. sebenernya enggak harus sih bang. Cuma kalo saya ada di posisi bang eka mungkin keselnya lebih lebih. Hahah..

    Btw penasaran sama kelanjutan tulisannya.. pengen tau sebagus apa parang gombong di pagi hari

  28. klakson pas lewatinjembatan harus banget ya biar sampe tujuan dan pulangnya selamat. Tapi sebenernya sih itu mitos..

  29. Beberapa teman juga merekomendasikan parang gombong ini, bang, semoga abis lebaran saya bisa kesana juga.

    Ikutan jawab kuis ah:

    1. Karena bang eka berusaha untuk disiplin pada itenerary dan komit pada janji, jadi berusaha buat semuanya tepat sampai terlewat untuk foto-foto walau yang diperjuangkan pada jadi drama

    2. Kalau dalam posisi itu, wajar dan manusiawi ya kalau kesal

  30. kayaknyua seru kesana.. otw aaah kesasna

  31. keretanya delaynya gak nyantai ya, 1 jam banget donk

  32. Makanya cuci kaki sebekakitidur biar lancar….wkwkwk
    Mo jawab quiznya ahh, sapa tau menang dpt pulsa haha
    1. Dengan kondisi kesal dan panik takut gak sampe di tempat pasti gak akan kepikiran utk foto2 yg penting sampe dulu.
    2. Kesal dgn drama yg bertubi2 tp kan endingnya dpt pemandangan ajib, hilang deh kesal nya

  33. Ikutan jawab ah..
    1. Karena udah enggak mood. “Biasanya” kalau udah terlalu banyak hal mengesalkan, mood untuk foto-foto hilang. Tapi, biasanya Tuhan baik sih, setelah melalui hari yang menyebalkan, tiba2 besok dapet sesuatu yang lebih baik. Nah, mungkin yang lebih baik ini diposting di postingan selanjutnya. *sotoy*

    2. Penulis kesal karena dia sudah berusaha maksimal, tapi yang lain kurang berusaha.

    Tetap semangat, Bang Eka!

  34. 1. Karena Babang pengen bikin kita penasaran.
    2. Kesal ga ya.. kesal dikit boleh laah tp langsung mupon.. (gayaaa haha aku aja blm tentu bisaa).. kan katanya keadaan di luar diri kita itu netral, mo ujan, mo kereta delay, mo bisnya ngetem..itu di luar kendali kita.. tinggal kita responnya gimana.. mau kesel jg ga ngubah keadaan, mending jalanin dan pikirin solusi .. #jawabansokbijak hahahaha..

  35. setelah sampai apsti arsanay puas ya setelah banyak drama menyebalkan

  36. Jiaaah lagi seru-serunya bersambung. Ditunggu lanjutannya bang

  37. story tellingnya bagus banget. Jadi sambil ngebayangin kalo jadi bang eka.
    HP nya beli yg water proof aja bang. Jadi kalo kecebur lagi gak rusak. Antisipasi wkwk.
    1. Bang eka ribet kali,ngejar kereta, trus ga dapet,buru2 naik bus,eh macet. Mana sempet foto? Bisa jadi hp nya low batt juga ye kan. Biar hemat batere juga hihihi.
    2. Bang eka kesal soalnya bang eka ke lokasi mepo penuh perjuangan,eh temennya pada cancel hahaha cemen ah! Bang eka aja dateng ujan2nan woles!
    https://helloinez.com

  38. 1. Karena lagi kesel
    2. Kesal karena tidak sesuai rencana, pantaa sekali kesal khususnya saat yg lain batal berangkat. Ingkar

  39. menanti kelanjutan cerita Prang Gomobng….

  40. Yaaaah. Baru mau liat foto yang berpadu antara ranu kumbolo dan danau di swiss, di-scroll kebawah malah bersambung. Berasa nonton lagi seru seru iklan.

    1.Kenapa tidak ada atau sedikit sekali foto-foto di awal tulisan tentang Parang Gombong ini?
    Karena masih gelap, ga bawa kamera super canggih. Jadi apa apa yg di foto cuman hitam aja.

    2. Kenapa penulis kesal, haruskah dia kesal?
    Karena temen temen perjanannya ga komit. Padahal babang udah berjuang melalui badai dan topan. Kalau sudah sampai di tujuan wisata biasanya keselnya akan hilang dan jadi bumbu bumbu cerita perjalanan seperti cerita meta dan temannya yg tidur di IGD.

  41. Wah, seru banget ini ada kuisnya segala, hahaha. Mau ikutan tapi kok udah telat banget yang jawab udah banyak, hehe. Kapan-kapan camping di sini enak kayaknya nih.

  42. Bang Eka, itu parah banget ya perjuangannya, kayak gak habis-habis.

  43. Perjalanannya emg ngeselin tapi bisa bgt jadi pelajaran ya bang, biar lebih teliti kalo mau nge-trip

  44. Mau ke sana aja perjuangannya yaaaaa berat beneerr. Berarti harus punya foto yg banyak nih sampe lokasi. Biar postingannya banyak foto lagi kayak biasanya 😀

  45. Baca tulisan Bang Eka yang ini rasanya langsung diceritain, jadi kebayang gitu intonasi, mimik dan gesture tubuh Bang Eka, hohohoho

    Ehtapi begitu sampai lokasi keselnya langsung ilang kan? dinikmatin aja, makin banyak cerita makin susah dilupain tripnya.

    ikutan jawab masih bisa gak sih Bang?
    1. Kenapa fotonya dikit? karena malam dan gelap gulita, belum ditambah saat perjalanan menuju mepo kayak lagi kejar-kejaran waktu dan banyak ketemu hujan. hihi, yang ada rasa panik yang berubah jadi kesel
    2. kenapa kesel? karena ternyata banyak drama yang sedikit di luar prediksi – yang kereta pake kesel Bang, bikin cape aja, mengurangi nikmatnya ngetrip. heheheheh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: