EXTRA LARGE

[Cerita Bersambung]

Judul : EXTRA LARGE
Penulis : Eka Siregar

Selalu ada optimis yang keluar dari sisa badai, kata Mamakku.
Selalu ada harapan yang bersinar dari mulut hatimu.
Dirimu yang membuat aku yakin bahwa aku ciptaan terbaik-Nya
Pemberian Tuhan kepada orang terbaik.
Yang menjadi tujuan pertamaku atas hasil terbaikku.
Mamakku… terima kasih.

 

Menghilang


Sore itu hujan turun deras sekali. Angin kencang mulai merobek dan merontokkan daun dari pohon-pohon yang tumbuh di halaman. Kilatnya menyambar-nyambar memberi tanda kepada semua orang untuk segera berteduh. Petir bersahutan memekakkan telinga, bahkan mengalahkan suara knalpot yang keluar dari motor yang berkejaran dengan buliran air deras yang tumpah ruah serentak ke bumi.

Beberapa penghuni rumah yang tinggal di gang –yang lebarnya cukup dimasuki dua becak barang pengangkut sembako itu– tampak mulai sibuk di depan rumah. Ada yang tampak pasrah dengan pengki plastik di tangan, mengaduk-aduk dan membuang air yang meluap di parit kecil yang memang pasti mampet karena ujung lainnya sudah tertutup tanah. Beberapa lagi tampak menguras air yang masuk ke teras rumah, dengan alat yang sama. Semua takut air masuk ke dalam rumah. Beberapa sudah mulai mengganjal lubang bawah pintu mereka dengan handuk dan baju-baju bekas.

Sementara itu, sayup-sayup terdengar suara seorang anak perempuan yang meskipun sayup masih terdengar kental logat bataknya. Makin lama makin terdengar jelas. Mengalahkan suara genangan air yang pecah diinjak anak-anak SD yang berlarian pulang ke rumah sambil bermain hujan di sepanjang gang.

“Do the best girl, you must be number one!! Never delay until tomorrow what you can do today. Yes.. I want it!!”

Suara perempuan itu keluar dari balik jendela salah satu rumah kost. Rumah ketiga dari ujung gang ke jalan raya. Rumah kost itu sebenarnya rumah tinggal seorang janda paruh baya usia sekitar 65 tahun yang tinggal sendiri sejak anak perempuan satu-satunya menikah dan tinggal bersama suaminya.

Kamar bekas anak perempuannya itu dijadikan kamar kost yang saat ini menjadi sumber suara yang mencoba memecah dinding dingin hujan sore itu.

Kamar kost itu di cat warna merah muda dan biru muda. Dindingnya ditempeli tiga poster model dunia terkenal; Ashley Graham, Barbara Brickner, dan Christina Mendez. Ketiganya adalah model-model “big size” papan atas dengan bayaran termahal di dunia. Tampak juga beberapa kutipan kata-kata bijak yang terpasang rapi di dinding, tepat di atas kepala tempat tidur.

Suasana kamar jauh dari kesan kaku. Buku “mode” dan potongan pola terserak begitu saja di atas tempat tidur. Di dekat jendela, seorang gadis gemuk usia 23 tahun mengenakan baju ketat casual berwarna cerah, sedang mengotak-atik kain di mannequin. Sesekali dia melihat desain buku di atas meja belajar di sampingnya dan gambar model di dinding bergantian.

Gadis itu tampak asyik sekali dengan dunianya. Tangannya seolah menari menusukkan jarum-jarum kecil dan memasangnya ulang sambil mendendangkan lagu kesukaannya. Terkadang dia juga menggumam kecil bahkan sampai berujar semangat sambil melihat kata-kata bijak yang menempel di dinding.

Hujan mulai reda. Sementara itu di depan pintu kamar kost, tampak satu orang lagi gadis bertubuh tambun — mengenakan jilbab senada dengan bajunya yang cerah — berdiri gelisah sambil mengetuk pintu kamar. Kontras sekali dengan warna bajunya, raut wajahnya benar-benar terlihat cemas. Sambil terus mengetuk, terlihat nyata kalau dia kesal karena ketukannya seolah kalah dengan suara dari dalam.

“You are the best, Put… You are the best.. Yes I am… I am Puti… I am the best!”

Saking asiknya, Puti gadis yang tengah sibuk dengan mannequin-nya tidak mendengar ketukan itu. Tiba-tiba terdengar ketukan dari kaca jendeka, persis di sebelah mannequin. Puti terkejut. Melirik sebentar ke arah jendela lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Siapa?” Balas Puti cuek.

“Ini gue,Put. Ya elah… Put, ngapain lu? Ini gue, Dike! Buruan nape? Ini tentang Gaga!!?

Puti tertegun. Melihat keluar jendela. Matanya memancarkan semburat rindu yang tak biasa.

 

– – – 000 – – – 

 

Gaga adalah cowok asal Solo yang “Solo” banget. Penuh sopan santun. Tersenyum lewat mata dan melebihi sungging bibirnya. Pakaiannya selalu rapi. Memakai celana panjang berbahan kain dan mengenakan kaca mata kotak ala Superman.

Gaga pindah ke Jakarta empat tahun lalu, setelah dia lulus SMA. Enggak banyak yang Puti dan Dike tahu tentang latar belakang kehidupan dan keluarga Gaga. Dan ini sebenarnya bukan karena Gaga pemuda yang pemalu apalagi pendiam. Tapi memang karena Gaga bukan tipe yang suka bercerita tentang dirinya, apalagi berkeluh kesah.

Gaga lebih suka bercerita tentang usahanya untuk meraih cita-citanya.  Tentang kepeduliannya terhadap orang-orang yang bermasalah karena kondisi fisiknya. Gaga lebih banyak memanfaatkan waktu diluar ngampusnya dengan kesibukannya sebagai konselor di Yayasan tempat dia bertemu dengan Puti dan Dike.

Pertemanan antara mereka bertiga pun kemudian tidak hanya terbatas pada pertemanan di Yayasan saja. Mereka lantas akrab sebagai teman bermain, bersahabat dan saling mengingatkan untuk banyak hal. Mereka jadi sangat peduli satu sama lain.

Meski enggak pernah saling curhat sedikit banyaknya mereka mulai kenal dengan karakter mereka masing-masing. Gaga yang ramah dan kelihatan kutu buku, senang sekali menyenangkan hati dua teman ceweknya. Bahkan jika ada waktu senggang, pemilik tampang serius ini selalu dicoret mukanya karena kalah terus kalau bermain Staco bertiga dengan Puti dan Dike.

Nama Gaga, pemuda dengan wajah berlesung pipit di pipinya yang tembem dan memerah jambu saat malu-malu, mampu menghentikan jam waktu Puti seketika.

 

– – – 000 – – – 

 

Mimik Puti seperti salah tinggah saat mendengar nama Gaga. Seketika Puti langsung sadar kalau ada Dike di luar. Dan jam waktunya pun berputar kembali.

“Yaelah, masuk ajalah kau, Dike,” dengan nada setenang mungkin.

Dike masuk tergesa-gesa sambil menutup payung yang dia bawa, menyenggol satu mannequin yang ada di dekat pintu dan hampir jatuh kalau tidak segera dia pegang.

“Ups .. sori, Put.”

“Hadoh! Ada apa sih, Dik? Kau pikir badan kau tu dah kecil kali? Gak tahu kau ini rancangan spekta ku buat show nanti!” Ku gebok juga kau!” Sambil mengarahkan siku ke Dike.

Puti membereskan mannequin-nya. Dike enggak peduli, ditaruhnya payung di dinding terdekat, langsung duduk di tempat tidur. Setelah merapihan rambut yang keluar dari jilbabnya, Dike menopang dakunya seimut mungkin, tapi masih terlihat cemas.

“Lu kok bisa setenang ini sih Put, lu udah denger kabar si Gaga belum? Udah 2 minggu lo, Put. Mana sekarang lagi ada anak baru di Komunitas Extra Large yang kayaknya cuma cocok di konsultasiin sama si Gaga. Kemarin udah gue coba bantu, tapi gak mempan, gak bisa terbuka sama gue tuh cowok. Cowok bisanya sama cowok Put.”

Tanpa melihat Dike sedikitpun, Puti agak tertegun sejenak. Tangannya berhenti sesaaat. Matanya sayu memancarkan rindu.

Dike mengubah sikap tangannya. Mukanya cemas sesekali serius.

“Duh, lupain dulu deh tuh cowok yang mo konsul. Sekarang intinya Gaga. Put… kemana si Gaga?” Dike bingung, gugup. Sadar keluar dari topik maksud kedatangannya.

Puti langsung berhenti kerja. Berbalik dan menarik kursi kerjanya mengarah ke Dike. Raut mukanya mulai berlagak serius.

“Iya juga ya. Tapi kalo ku bilang, kau juga gak bakal bisa temuin si Gaga kalau kaunya juga stres kek gitu. Akupun dah rindu sama dia, Dik. Udah 2 minggu gak ku coret mukanya. Kalo sama kau aja, gak ada rame-ramenya maen Staco,” berusaha santai seolah menutupi sesuatu.

“Gue serius nih, Put,” Dike mulai kesal.

“Aku pun serius. Ada apa sama si Gaga ya? Kasian buah-buahan di kulkasku. Gak ada yang ngerampok,” sambar Puti.

“Putiiii!!!” Dike tambah kesal.

“Iyaaa.. Kau udah tanya lagi sama mamak kau belum? Kan dia kost di tempat kau, masak dia belum ada kontak ke mamak kostnya, Dik?”

Dike memainkan genggaman jari tangannya di dada,” Ya… itulah yang bikin gue bingung. Nyokab malah nanya-nanya gue mulu, nyuruh gue nyari, malah nyuruh gue ke Solo ke tempatnya si Gaga. Nyokab cuma punya alamat rumah si Gaga, HP-nya kita telpon, gak pernah diangkat. Duh.. ngeselin banget tuh anak. Beuh..”

Dike berdiri. Jalan ke kulkas. Mengambil buah. Mukanya kembali kesal karena buah yang baru mau dia gigit ternyata busuk. Lalu diambilnya jus jeruk dan melanjutkan keluh kesahnya sambil minum jus.

“Ada masalah apa ya? Apa masalah cinta?” Tanya Dike pada diri sendiri sambil menatap kosong gelas di tangannya.

Muka Puti terlihat kaget.

“Emang siapa di antara kita yang udah pacaran? Kan gak ada? Duh, bocah.. ngeselin.. beuhhh,” air muka Dike mulai kembali ke asalnya. Muka yang lugu tapi serba ingin tahu.

“Tenanglah kau, Dike. Duduk dulu kau di sini,” Puti berusaha bisa sewajar mungkin.

Dike lantas duduk di pinggir tempat tidur lagi. Puti duduk di atas kursi belajarnya, menghadap Dike sambing memegang kedua lutut Dike. Matanya menatap mata Dike, tajam.

“Ini memang gak betul, dia anggap apa kita sekarang. Genk Tiga Extra Large dah mulai gak betul nih kalau dah mulai gak terbuka kek ini. Awas kau kayak si Gaga ya. Awas juga tu anak kalo jumpa nanti !!

Bukannya menenangkan, ternyata Puti malah bikin Dike merasa putus asa. Puti tercekat, sekejap merasa susah bernafas. Sedih.

Puti sadar Dike mulai merasa bersalah karena aduannya menyebabkan Puti marah. Dan dia mulai sedikit menbahas topik yang lain.

“Duh, mana Seminar kita udah mulai mau jalan lagi. Duh yang kayak gini yang aku gak mau.” 

Puti berjalan arah jendela, lalu berputar kembali ke arah Dike.

“Yang Puti mau…. Ya… yang aku mau, susah senang kita cerita sama-sama. Jangan sampelah hidup jadi seberat badan kita, Dik. Jangan sampe.” Puti kembali menatap jendela, jauh keluar Jendela.

“Yang Puti mau….,” kali ini Puti berbicara lirih. Nyari tak terdengar.

Dike bingung, berusaha menangkap makna ucapan Puti.

 

Bersambung

…. siapa Gaga? Apa hubungan antara Puti, Dike, dan Gaga? Kenapa mereka berdua sangat mencemaskankan Gaga? ….

 

0

User Rating: 4.5 ( 1 votes)

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

92 comments

  1. Formatnya sengaja pakai rata kiri ya bang…

    Kayaknya aku harus baca cerita selanjutnya biar ngerti inti dan makna lebih lanjut dari cerita ini 😑

  2. Bikin penasaran kelanjutannya nih.

    Btw kok jadi inget pangeran solo yg sering disebut di kubbu hahaha.

  3. Duuuh…. Yg ini ga bisa fast reading in the morning Bang Eka… I’ll stop by later to read the previous part first. Anw, detailnya asiiik banget, Bang. Ga bisa disambi bacanya 👍👍👍👍

  4. walah asik banget ni babang bacanya aku, konsonan katanya enak loh. hehe

  5. Siapa Gaga? Apa hubungan antara Puti, Dike, dan Gaga? Kenapa mereka berdua sangat mencemaskankan Gaga? Ah elah bersambung, bikin penasaran aja. Jadi kapan kelanjutannya, Om?

  6. Wah, akhirnya bisa baca cerbung lagi nih.
    Skalian buat belajar nulis kaya gini di blogku..
    Mantap bang

  7. Aduh yang bersambung gini yang bikin penasaran Om..
    Btw ini aku pengen banget bisa nulis cerita yg kayak gini deskriptif bgt shg yg bacanya tuh bener2 ngayalin apa yg dituang di dalem cerita.
    Om eka emang selalu bagus dlm merangkai kata, baik itu puisi, artikel apapun, perjalanan, bahkan cerita. Ah bikes deh. Bikes positif 😂

  8. Ceritanya detail Bang, bahkan aku bisa membayangkan ceritanya dengan baik. Penasaran dengan kelanjutannya. Jangan-jangan Puti menaruh hati ke Gaga, atau justru Dike juga menaruh hati yang sama? Ahh sepertinya Bang Eka ga akan bikin cerita sesimpel itu.

  9. Dengan judul menggelitik penasaran, saya sengaja membacanya pelan – pelan. Eh aseli jadi penasaran dengan kelanjutannya. Keren pisan euy, pembaca ‘langsung terlibat sejak kalimat2 awal.

  10. Yah, bersambung

  11. Ditunggu sambungannya ya, Bang. Jadi ketawa-ketawa baca ini. Bisa banget sih ambil karakternya yang sering diobrolin di grup :))

  12. Extra Large, tema yang diangkat antimainstream. Cewek berbadan besar dan ingin menjadi seorang desainer, pasti bakal banyak banget rintangan yang harus dia jalanin sebelum mencapai mimpinya! Kalau udah tamat kabarin ya bang, aku lebih suka sekali baca tamat, biar gak penasaran, hehe

  13. Selain ceritanya, aku suka nama-nama tokohnya Puti, Gaga dan Dike 😍

  14. Tulisannya keren Babang Eka. Enak dibacanya. Sekaligus penasaran, siapakah mereka? 😀

  15. Semoga Gaga bukan hilang diculik orang ya. Tapi lagi jalan-jalan dan hp-nya rusak sehingga nggak bisa ngabarin.

  16. Puti, Gaga, Dike.. Bikin penasaran, Bang. Seru bacanya. Tapi kenapa jadi kebayang Ladi Gaga wkwkwk

  17. duh baang….tulisannya bernyawa banget ini, btw berapa malem bikinnya…bersambung pula..huuft

  18. Kalo boleh tebak, Puti orang Medan atau Sumaterakah bang? 😝

    Aku suka featurenya!! (Jiye kan sok2an..aseli jd sering perhatiin feature deskripsi penulis sekarang)

  19. Saya baca 2X tapi masih belum mengerti cerita mengenai apa ini bang?

  20. Akhirnya tajinya keluar. Setelah dari tadi baca artikel, tulisan Bang Eka memberi suasana baru. Entah kenapa aku membacanya seperti lagi dengerin sandiwara radio , bisa membayangkan detail adegannya. Keren lah Bang cerbungnya, kalau zaman dulu ini pasti sudah dimuat di Anita Cemerlang atau Hai hehehe.

  21. Ini seperti calon novel

  22. Izin buka tenda dimari bang, sambil nyimak kelanjutan ceritanya.

  23. Wih… Ntar jadi novl ini. Extra large, geng 2 ce 1 co. Sigaga yg dimisteriusin. Yang kalo ada sanbunganya bikin org nyari tau hehe… Pinter bner bang pancinganya.

  24. Dari awal sudah langsung tertarik dengan ceritanya…eh dibuat penasaran pula.
    Jangan lama lama ya kelanjutannya karena digantung itu tidak enak

  25. Bang Eka membuat ratusan anak muda di luaran ini penasaran. Jadi si Gaga kemana??

  26. Twist-nya pasti KEREN nih hahaha. Paling jago emang Babang mah hoho. Tapi boleh review sedikit yak bang. Dike itu nyebut dirinya Gue atau Gua, soalnya ada kata gue dan gua pas dialog. sama Puti itu pas dialog ‘Aku atau Gue’? Ada beberapa yang beda. Semoga berkenan bang, maaf dan maturnuwun nggih.

    • bicara ttg twits.. otak saya lagi nakal kemana2 nih.
      makasih banget atas ketelitiannya.. walhasil semua saya ganti jadi GUE, walau awalnya semuanya GUA dan cuma 1 yang gue… biar betawinya lebih dapet…

  27. Endingnya pasti KEREN nih hoho. Tapi ada beberapa penggunaan kata gue/gua pada dialog Dike & Aku/gue pada dialog Puti kurang konsisten. Overall nangis banget, Aku mah meni ga bisa nulis gitu hehe. Keren bang. Semoga berkenan bang

  28. aku menunggu lanjutan ceritanya nih 😀

  29. Bikin juga cermis, cerita misteri bang. Ntar dishare pas malem Jum’at hehehe

  30. Bang Eka nulis cerbung. Berasa lagi baca cerbung di majalah story jaman dulu. Hehe… penasaran sama lanjutannya.

  31. Apakah puti ada perasaan sama gaga? Wkwkwk.. #kebanyakan baca romance 😂😂
    Seru bang eka ditunggu kelanjutannya.. suka baca cerbung.. walaupun suka kesel kalo pas ada tulisan bersambung 😂😂

  32. Ditunggu Bang Eka, cerita sambungannya hehehe

  33. Tulisan nya featured bgt tapi belum nangkep jalan ceritanya hehe

  34. Wah penasaran, Bang. Btw Extra Large nama lain gerombolan si berat gituh? Wkwkwkkw

  35. Jangan sampai hidup jd seberat badan kita….. wkwkwk nice quotes.
    Ini naskah yg di minggu sinema bukan si?
    https://helloinez.com

  36. Penasaran, nih. BTW, Puti, Dike, Gaga itu Xtra Large semua ya?

  37. Ah tulisannya selalu begitu ya om

  38. ditunggu cerbung selanjuntnya bang…

  39. Keren…di tunggu cerita selanjutnya

  40. Gaya bahasanya aku suka
    Cara mendeskripsikan latarnya kerennnn.

  41. Baca sampai akhir dengan nggak sabar. Deskripsi suasananya bagus, Bang. Ditunggu kelanjutannya.

  42. Gaya bahasanya itu loh bisa ngalir enak..
    Jd nggak sabar nunggu kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: