Home / TRAVELING / JAVA ISLAND / Pesona Kampung Naga, Simbol Teguh Memegang Adat Leluhur

Pesona Kampung Naga, Simbol Teguh Memegang Adat Leluhur

SERI SWISS VAN JAVA – #01

Seri ini adalah seri yang bercerita tentang pesona yang dimiliki oleh Kabupaten Garut yang dikenal sebagai SWISS VAN JAVA – Swiss-nya Jawa – saking indah dan sejuknya.

Kampung Naga. Dulu, setiap kali mendengar nama Kampung Naga, yang terbayang adalah tempat dengan akses yang tidak gampang untuk ke sana. Informasi harus naik turun 1000 anak tangga dan tidak adanya alat penerang benar-benar mengganggu keinginan saya untuk datang bermain-main ke sana.

Tapi itu dulu banget. 

Beberapa tahun lalu, bersama dengan orang yang saya sayangi sampai kapan pun, pada akhirnya sampai juga kaki ini di Kampung Naga. Dan benar, bersama dia semua jadi terasa indah.. ahay.. rasa lelah hilang waktu dia kasih sapu tangan untuk mengelap keringat yang mengucur deras.

Pada saat kami sudah tiba di pemukiman asli Kampung, wuih… rasa bahagia, haru dan bangga bercampur menjadi satu. Tanpa terasa genangan air mata mulai muncul dari balik pelupuk bawah mata saya. Kenapa? Terlalu banyak untuk diungkapkan di sini.

Kemarin, bersama dengan teman-teman dari Backpacker Jakarta saya mengulang kembali nostalgia itu. Menyusuri undakan-undakan anak tangga yang telah bercerita banyak, menuju ke salah satu desa yang saya kagumi karena tradisinya.

TUGU KUJANG PUSAKA

Tiba di wilayah Kampung Naga, tidak bisa langsung menuju pemukiman “masyarakat asli”nya. Terlebih dahulu kita akan tiba di lapangan luas yang biasa digunakan untuk parkir kendaraan dan tempat membeli makanan asli sunda dan kerajinan khas sunda, yang ternyata tidak sepenuhnya bikinan masyarakat Kampung Naga.

Toko oleh-oleh kerajinan khas sunda dari masyarakat setempat

Di lapangan tersebut kita akan melihat satu buah tugu. Tidak banyak yang tahu kalau Tugu Kujang Pusaka di Kamp. Naga, yang awalnya direncanakan didirikan di Lapangan Gazebo Bandung ini, adalah tugu terbesar di dunia.

Tugu Kujang Pusaka

Besarnya tugu tersebut terlihat dari bangunan persegi empat yang terbuat dari beton, dengan Kujang (senjata tradisional sunda) menjulang tinggi di atasnya. Total tinggi tugu sekitar 3 meter. Kujang raksasa tersebut ditempa oleh 40 empu pembuat kujang.

Dan luar biasanya lagi, yang membuat kujang tersebut istimewa adalah, karena bahan bakunya berasal dari leburan senjata pusaka milik 900 kerajaan yang ada di nusantara. Banyaknya leburan bahan baku itu, membuat pembuatannya memakan waktu 40 hari lebih.

PESONA ALAM KAMPUNG NAGA

Di depan rumah “orang luar” Kampung Naga

Sebelum menuruni tangga menuju daerah pemukiman asli Kampung Naga, kita akan melewati rumah penduduk yang merupakan rumah warga Kampung Naga yang menikah dengan orang dari luar Kampung Naga. Ini adalah salah satu cara untuk menjaga tradisi asli dari suku di Kampung Naga.

Rumah mereka lebih “modern” karena sudah ada kursi tamu dan alat listrik serta dibuat menggunakan paku besi dan tembok. sangat berbeda dengan rumah asli suku Kampung Naga yang banyak sekali syarat-syaratnya saat membuat sebuah rumah.

Kampung Naga berada di lembah yang di dalamnya terdapat hamparan sawah, sungai dan “hutan terlarang” yang oleh warga asli setempat digunakan sebagai makam leluhur Kampung Naga.

Sejauh mata memandang, selama perjalanan menyusuri hampir 500 anak tangga, Kampung Naga menyajikan pemandangan alam yang luar biasa mempesona. Sayang sekali jika dilewatkan tanpa foto-foto.

Indahnya panorama di Kampung Naga, tidak terlepas dari sistem kepercayaan masyarakat setempat yang sangat menjaga dan menghormati alamnya.

Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap ruang, terwujud pada kepercayaan bahwa tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu pula. Tempat atau daerah yang mempunyai batas dengan kategori yang berbeda seperti batas sungai, batas antara pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan, tempat air mulai masuk, tempat-tempat lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya, merupakan tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Daerah yang memiliki batas-batas tertentu tersebut didiami mahluk-mahluk halus dan dianggap angker. Itulah sebabnya di daerah itu masyarakat Kampung Naga suka menyimpan “sasajen” (sesaji).

DESA ADAT, DESA TAAT TRADISI DAN ADAT ISTIADAT

Secara administratif, Kampung Naga berada di wilayah desa Neglasari, kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Berada di pinggir jalan raya antara Garut dan Tasikmalaya, sekitar 26 km dari kota Garut.

Tabu atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya. Pamali merupakan hukum tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap ke sebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok.

Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan secara garis lurus. Menurut masyarakat Kampung Naga, rejeki yang masuk rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang.  Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur.

Selain itu banyak lagi pantangan yang berhubungan dengan kesenian, hari-hari baik dan buruk, serta pelaksanaan berkeagamaan.

Apakah semua itu membuat masayarakat Kampung Naga hidup dalam penderitaan? Tidak bahagia sama sekali? Kenyataannya, pada saat saya kesana, saya melihat wajah ikhlas dan bahagia, tulus dan penuh kasih. Itu sebabnya, saya dan kesayangan saya, memutuskan bahwa Kampung Naga adalah salah satu tempat yang membuat kami merasa bahagia.

Pada saat itu, saya dan kesayangan pun memutuskan untuk menginap di sana. Dalam hening kami menghayati ketergantungan kami,

Love you, Neng.

Dan perjalanan kali ini, benar-benar perjalanan nostalgia tanpa dirinya di sisi saya, tapi dia ada di hati saya selalu.

 

Baca juga :
SERI SWISS VAN JAVA – #02
Curug Sang Hyang Taraje, Magnet Pesona dan Legendanya

 

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coiba untuk bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat dan rasakan. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Curug Sang Hyang Taraje, Magnet Pesona dan Legendanya

SERI SWISS VAN JAVA – #02 Seri ini adalah seri yang bercerita tentang pesona yang …

6 comments

  1. Seru amat sih bang. Terus rumah-rumahnya kayaknya seru ya. Yg buat merinding sih pantangan-pantanyannya itu. Terus batas-batas itu. Aku enggak bisa ngebayangin, kalo disana bisa ngelanggar mulu. Terus kalo melanggar pantangan, apa yg terjadi kiranya?

    • pernah dulu nginap 1 malam, gak ada merinding2 kok.. hehehehe… mengenai pantangan sih sama aja kayak hal2 yang gak boleh dilanggar dalam agama, toh kita masih bisa tahan. Mengenai akibat dari melanggar, katanya ada macam, bisa ada wabah penyakit, jadi sakit atau ada bencana..

  2. Pengen banget kesini dari lama tapi belum kesampean 😓 serem bayangin banyaknya anak tangga tapi liat pemandangan mungkin capenya jadi ga berasa ya om 😀

  3. catatan perjalanan yang seru asik…
    Informatif…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *