Home / TRAVELING / JAVA ISLAND / Wisata Gunung Galunggung, Keindahan dari Bencana Masa Lalu

Wisata Gunung Galunggung, Keindahan dari Bencana Masa Lalu

Para peserta Trip. (Kolekasi pribadi)

Enggak seperti biasanya, untuk kali ini persiapan mengikuti One Day Trip (ODT) dibayangi perasaan yang more exciting. Kenapa? Karena kali ini saya mau ke suatu tempat yang pernah saya saksikan sendiri “peristiwa dan dampak bencananya”.

Tiga puluhan tahun yang lalu, bersama keluarga kami pindah ke Garut, salah satu kota di Jawa Barat antara Bandung dan Tasikmalaya. Kami semua tahu betul, pada saat itu baru saja terjadi peristiwa letusan gunung yang sangat dahsyat. Tapi keluarga menyangka bencana sudah usai, karena saat akan berangkat informasi di media massa mengatakan kalau suasana di daerah bencana sudah mulai kondusif dan relatif aman.

Ternyata kami salah. Gunung Galunggung masih dalam aksinya melontarkan isi perut bumi, dan ini berlangsung selama 9 bulan. Ya, Gn. Galunggung meletus mulai April 1982 hingga 8 Januari 1983.

Dan selama beberapa bulan, saya dan keluarga menyaksikan betapa dahsyatnya Galunggung bersenandung meskipun jaraknya cukup jauh dari kami, di Garut.

Setiap malam saya dan adik-adik yang masih kecil, lari ke luar saat mendengar gelegar yang kami tahu itu adalah letusan Galunggung, karena tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Kilatan berwarna kuning keemasan berkelebat laksana petir di antara warna-warna mirip matahari terbit. Dan seperti sebelum-sebelumnya, beberapa saat kemudian debu-debu pun mulai datang menutupi halaman dan rumah kami.

Takut? Eka kecil belum merasakan takutnya suasana itu. Buat saya, itu nikmatnya masa kecil, masa-masa semua dirasa sebagai sebuah permainan dan mainan.

KUMPUL, JALAN DAN TIBA

Sekitar jam 11 malam kami semua kumpul di daerah cawang. Di sana sudah berkumpul sekitar 50 orang lainnya yang akan berangkat sama-sama ke Gn. Galunggung. Dan tepat jam 12 malam, kami pun berangkat dengan menggunakan 3 buah mobil ELF.

Bagaimana sepanjang perjalanan? Entahlah, saya tidur.. hahaha.. hanya sesekali terbangun dan sadar kalau masih di jalan tol. Benar-benar sadar waktu mobil berhenti di salah satu rest area sebelum pintu tol Cileunyi. Rekomen nih istirahat di sini, karena tempatnya tidak terlalu ramai.

Sekitar jam 6.30 kami semua tiba di kawasan Wisata Gunung Galunggung. Agak miris rasanya. Bencana letusan besar dengan skala 4 VEI (Volcanic Explosivity Index) yang menjadi malapetaka bagi wilayah sekitarnya; melingkupi lebih dari 10 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya serta menyebabkan 18 orang tewas, kerugian milyaran rupiah, dan puluhan desa ditinggal begitu saja tanpa penghuni, kini menjadi daerah wisata.

PERJALANAN KE PUNCAK

Tangga menuju kawah galunggung. (Kolekasi pribadi)

Ahay, gaya nih, ceritanya mau ke puncak Galunggung, yang kebayang pasti perjalanan dengan kostum dan barang bawaan ala-ala pendaki gunung. Salah! Semuanya ala-ala tamasya. Paling butuh baju penghangat saja kalau kita memang mau naiknya malam atau subuh.

Sekarang ini, tujuan dari jalan-jalan itu memang sudah bukan lagi sekedar menikmati, mempelajari dan merasakan daerah tujuan. Salah satu alasan yang lagi nge-hits adalah, bikin foto sebagus mungkin untuk pamer di sosial media.

Dan jadilah akhirnya tas ransel kali ini isinya penuh dengan pernak-pernik pemotretan.

Saya pun memulai perjalanan ke Kawah Gunung Galunggung yang menjadi tempat wisata yang dikunjungi banyak wisatawan domestik dan mancanegara.

Dasar kawah yang terletak di ketinggian lebih kurang 1167 mdpl menjadi tempat yang menarik, terutama dengan hadirnya danau di dasar kawah.

Untuk mencapai kawah pengunjung bisa melalui jalur tanjakan pasir. Jalur ini merupakan jalur pendakian yang melalui jalan setapak yang dapat ditempuh sekitar 1 jam berjalan kaki.

Jalan lain mencapai bibir kawah kawah adalah dengan menggunakan tangga. Ada dua jalur tangga, yakni tangga 510 dan tangga kuning 620. Angka 510 dan 620 menunjukkan banyaknya anak tangga.

Dan saya bersama teman-teman memilih melewati sekitar 620 anak tangga. Dari bawah sudah terlihat jelas jalur tangga yang makin lama makin kecil. Hati ini sempat mikir juga, “bakal kuat gak ya bawa bobot badan 110 kg ini naik ke atas?” Tapi ah sudahlah, masak sudah sampai enggak jadi naik. Lagi pula niat awal ingin melihat sumber letusan puluhan tahun lalu memang sudah sangat menggebu-gebu.

Parkiran mobil, awal penanjakan (Kolekasi pribadi)

Huff.. sepanjangnya pendakian menaiki anak tangga, hanya dua hal yang membuat rasa cape itu hilang. Apa itu? Yaps… yang pertama adalah foto-foto. Lebih dari 4 kali kami berhenti untuk foto-foto.

Dan memang, pemandangan gunung enggak pernah gagal untuk menampilkan keindahannya. Its always perfect. Entah kenapa, pasti akan selalu memupuk rindu untuk kembali setiap memandangnya.

Anak tangga ke 400. (Kolekasi pribadi)

Obat capek yang kedua adalah tulisan sisa anak tangga yang ditulis di tangga. Tulisan itu cukup membantu juga untuk menambah semangat mendaki.

Dan ternyata memang benar, perjalanan ke atas lelahnya jadi tidak seperti yang dibayangkan. Alhamdulilah.

DI ATAS

Papan penunjuk arah di atas. (Kolekasi pribadi)

Saat tiba di atas, kita akan langsung melihat satu tiang penunjuk arah. Ternyata ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi kalau kita main ke atas Galunggung ini, seperti : 1. Ngarai Galunggung, 2. Mercury Galunggung,  3. View Deck, 4. Blue Stairs, 5. Monumen Letusan, 6. Danau & Caldera, dan 7. Mushola Kawah.

Ke tujuh lokasi tersebut dikenal sebagai 7 Spot Selfie Wisata Galunggung.

Sayangnya, saya enggak sempat mendatangi semua lokasi yang ada. Selain karena kabut yang tiba-tiba turun dan cukup menghalangi jarak pandang kami. Waktu kami pun habis hanya karena terlalu lama ambil foto di satu tempat saja.. hahahaha…

Tugu peresmian 7 SPOT SELFIE WISATA GALUNGGUNG (Kolekasi pribadi)

Di atas, semuanya nyata. Lubang yang menganga bekas ledakan dahsyat terlihat jelas. Di dalam kawahnya muncul air yang membentuk danau besar di atas kawah Galunggung, kawah air panas inilah yang sekarang menjadi objek wisata utama Gunung Galunggung.

Danau kawah Gunung Galunggung. (Kolekasi pribadi)

Namun, menurut informasi, air yang sangat banyak kawah Gunung Galunggung memberikan potensi bencana yang lebih mematikan. Jika Gunung Galunggung meletus lagi, maka ribuan ton meter kubik air yang berada di kawah akan mendidih karena aliran lahar di bawahnya. Ketika suatu waktu nanti bencana letusan Galunggung terjadi lagi, maka air mendidih di kawah tersebut akan membawa jangkauan material lahar lebih mematikan.

Tindakan prefentifnya, saat ini dilakukan proses pengurangan volume air di kawah Galunggung dengan terus mengalirkan airnya melalui terowongan buatan yang membuang aliran airnya ke sungai Cikunir.

Semoga Gunung Galunggung tidak “bernyanyi lagi dan selalu dalam “tidurnya” yang indah.

Menangkap keindahan Galunggung. (Kolekasi pribadi)

Galunggung sekarang memang mempesona sejauh mata memandang hanya keindahan yang kami lihat. Tidak hanya itu, banyak juga keunikan-keunikan yang mungkin saja berbeda dengan daerah lain, seperti :

1. NGARAI GALUNGGUNG

Bagi yang hobi berkemah, dasar kawah Gunung Galunggung adalah tempat yang indah untuk berkemah, Karena dasar kawah terdiri atas bebatuan dan pasir, maka disarankan membawa tenda dome karena lebih nyaman, aman, dan mudah. Unik, kan? Berkemah di dalam kawah! Padahal ini bukan kawah mati. Masih ada potensi meletusnya. Nah lo..

2. MERCURY GALUNGGUNG

Mercury Galunggung adalah mercury light (lampu mercury) yang menyala hanya dari sore hingga malam hari. Ini adalah lampu berkekuatan besar untuk pengunjung yang datang sore atau malam hari.

Spot Mercury Galunggung. (Kolekasi pribadi)

3. VIEW DECK

View DECK adalah panggung pandang yang terbuat dari kayu, yang menjorok ke arah timur untuk melihat pemandangan kota (city view).

Deck View. (Kolekasi pribadi)

4. MUSHOLA KAWAH

Di dasar kawah juga terdapat sebuah musholla yang terletak di dinding sebelah barat. Untuk mencapai mushola, dapat ditempuh sekitar 1 jam berjalan kaki dari lokasi perkemahan.

Nah, itu tadi beberapa hal yang unik dan menarik dari tempat wisata Galunggung.

Satu hal yang dibutuhkan tapi disayangkan di tempat ini adalah warung-warungnya. Keberadaannya sangat membantu. Susah sekali menandingi kenikmati minum teh manis hangat di atas gunung sambil makan gorengan. Dan ini bisa terwujud karena adanya warung-warung tadi. Tapi sayangnya tidak ditata dengan baik, sehingga mengurangi keindahan lokasi (baca: keindahan foto-foto kami).

SAATNYA TURUN

Jangan baper ya. Ini cuma sandiwara. (Kolekasi pribadi)

Lebih dari dua jam saya dan rombongan di atas, dan akhirnya kami pun harus turun.

Melihat keindahan Galunggung, sulit sekali rasanya untuk membayangkan bahwa ini adalah sumber dari bencana beberapa puluh tahun yang lalu. Sama sekali enggak terbayangkan oleh saya.

Tapi apapun itu. Galunggung kini sudah menjadi sumber penghasilan baru bagi warga sekitarnya dan tempat kita mensyukuri dan mengagumi kuasa-Nya

Perjalanan turun selalu lebih melelahkan. Betis rasanya jadi keras sekali. Lutut mulai ngilu-ngilu. So.. memang menjadi tetap dengan tubuh proporsional adalah pilihan terbaik. Jangan pedulikan istilah gemuk kelihatan makmur. Jangan! Gemuk itu sangat mengganggu disaat-saat seperti ini.

You know what.. apa yang terjadi saat saya akhirnya tiba di bawah? Ahay.. kembali foto-foto wkwkwk.. hilang yang namanya lelah yang enggak ketulungan itu.

Terima kasih Galunggung, satu cerita lagi dalam pundi-pundi hidup saya.

INFORMASI :
– Perjalanan dari Jakarta 6 Jam
– Tiket masuk mobil
– Tiket masuk per orang
– Kebersihan baik, ada beberapa sampai dari pengunjung di tangga
– Toilet banyak dan bersih
– Warung makan banyak
– Toko Souvenir banyak
– Kendaraan yang bisa masuk hanya motor dan ELF, bus dilarang masuk
– Kendaraan bisa langsung sampai ke awal anak tangga

Untuk informasi lebih lanjut mengunjungi tempat ini, bisa hubungi Bang Eka melalui Kontak Web ini.

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

Kampung Pulo Garut, Hadiah Eyang untuk Kota Intan

SERI SWISS VAN JAVA — #4 Perjalanan ke Kampung Pulo adalah perjalanan yang sulit terkatakan …

Cangkuang, Perjalanan Rindu ke Artefak 2 Agama

SERI SWISS VAN JAVA — #3 Perjalanan ke Cangkuang Garut adalah bagian dari “perjalanan rindu” …

9 comments

  1. Om Eka, Banyak foto-fotonya! Keren! Hehe

    Baru tau jika naik ke atas gunung sekarang ini gak perlu melewati jalan terjal. Udah ada tangganya!
    Tapi ada satu yang kurang, coba di sini ada pemandian air panasnya, pasti makin keren! Abis capek naik gunung, terhimpit udara dingiin, enaknya diakhiri dengan berendam air hangat 🙂

    • Bener banget nih… ini gunung paling asyik karena pake tangga, tapi malah banyak temen-temen pendaki gunung yang bilang justru lebih capek kalau pake tangga. Nahhhh…. btw.. sebenarnya ada pemandian air panasnya. Habis turun kami langsung berendam. Nanti saya buat tulisannya ya,

  2. Asik dan seru baca tulisan bang Eka..
    Ditunggu ya bang tulisan ttg pemandian air panasnya

  3. Udah pernah ke Galunggung bareng BPJ dan bagus banget. Gak nyangka dulu bencananya lumayan dahsyat. Sayang dulu belum punya blog jadi gak buat tulisan perjalanannya hehe.

  4. Wah keren juga nih bang Eka..
    saya belum pernah trip ke gunung galunggung, baru sekitaran kandang saya aja. Dan itu pun baru pertama kali trip ke pulau Peucang Ujung Kulon.

  5. Giliiiiiing liat tangganya hahahahahaha… Eh tp ini cm 620, harusnya aku bisa. Tangga di air terjun grjogan sewu di solo aja 1200 anak tangga aku bisa seleseiin, masa cm setengahnya nyerah wkwkwkwk..

    Galunggung ini berkesan buatku. Krn aku lahir pas dia masih meletus :p. Makanya dr bayi aku paling srg sakit, mungkin krn kena abunya itu :D. Ga kebayang ya mas, seseram apa pas meletusnya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *